Tujuh Bulan Laut Sepi: Perjuangan Ibu Sutatik, Penjemur Ikan yang Tak Pernah Berhenti

SURABAYA — Khatulistiwa Indonesia | Di tepian pesisir Sukolilo Baru, Kecamatan Bulak, Surabaya, tangan-tangan Ibu Sutatik tak pernah berhenti bergerak. Menjemur, membalik, menyusun ikan di bawah terik matahari — itulah cara ia mengubah hasil laut menjadi sesuap nasi untuk keluarga. Di balik setiap ikan asin, setiap teri yang kering, ada perjuangan yang jarang terlihat.
Dari Dapur Menuju Pasar; Tangan Ibu-Ibu Pesisir Mengelola Hasil Laut Menjadi Penghidupan Keluarga
Laut yang biasanya memberi kehidupan, kini terasa diam. Sudah tujuh bulan tangkapan ikan menurun drastis. Ketika nelayan pulang dengan hasil sedikit, giliran Ibu Sutatik yang ikut merasakan dampaknya — ikan yang dijemur berkurang, penghasilan pun ikut menyusut.
“Sudah tujuh bulan ini sepi, Nak. Kalau dapat sedikit, dibagi-bagi. Tadi saja ke laut, hasilnya cuma sepuluh ribu rupiah. Kadang empat puluh ribu sehari, kadang malah tidak ada sama sekali,” ungkap Ibu saat diwawancarai langsung tim khatulistiwaindonesia.online di kediamannya, Kamis (22/10).
Suaminya, Bapak Suyitno, dulunya adalah nelayan pengangkut. Saat laut tidak lagi memberi cukup, beliau kini turut bekerja sebagai pekerja bangunan — beralih dari perahu ke tembok dan semen — agar keluarga tetap bisa makan. Sementara itu, juragan tempat Ibu Sutatik bekerja pun sedang berjuang dengan kondisi diabetes, sehingga Ibu tidak hanya bekerja menjemur, tetapi juga turut menanggung lebih banyak beban pekerjaan di tempat itu.
Ibu Sutatik bekerja sendiri, belum tergabung dalam kelompok maupun paguyuban. Di sekitarnya memang ada kelompok Tri Pang, Rebon, dan Berkuta, namun informasi resmi dari Kecamatan Bulak belum sampai kepadanya. Selama tujuh bulan masa sulit ini, satu-satunya bantuan yang diterimanya hanyalah 30 kilogram beras — itu pun baru kemarin.
“Belum ada info jelas. Saya hanya bantu jemur ikan asin, teri buat peyek, geragau. Kalau ikan ada, ada rezeki. Kalau ikan sepi, kami pun ikut sepi. Tapi tangan ini tak boleh berhenti, anak-anak butuh makan,” ucapnya tenang namun teguh.
Di sepanjang pesisir Surabaya Timur, kisah Ibu Sutatik terulang berulang kali. Ibu-ibu pesisir bukan sekadar penunggu rumah — merekalah yang menjembatani laut ke meja makan, yang mengubah ikan segar menjadi barang yang bernilai. Ketika laut sedang sulit, tangan merekalah yang bekerja lebih keras lagi agar keluarga tetap berdiri.
Tangan Ibu-Ibu Menghidupkan Keluarga. Laut boleh sedang sepi, namun semangat Ibu-Ibu pesisir tidak pernah surut.
Laporan: Tim Khatulistiwa Indonesia
Wawancara & Penulisan: Joseph Rizard
Foto: Dokumen Khatulistiwa Indonesia
© khatulistiwaindonesia.online — Liputan Khusus Pesisir Surabaya Timur
BACA JUGA: Liputan Khusus – Surabaya Timur ; Nelayan Kenjeran

