SAAT IKAN MAKIN JAUH, MEREKA TETAP MELAUT.

π° SAAT IKAN MAKIN JAUH, MEREKA TETAP MELAUT
Kisah Keluarga Nelayan Kenjeran yang Tak Pernah Pulang Tangan Kosong
Oleh: Tim Peliput Khatulistiwa Indonesia
π Pantai Kenjeran, Surabaya Timur
π
7 Oktober 2026
SUBUH baru saja menyingsing. Kabut tipis masih menyelimuti permukaan air. Di bibir pantai Kenjeran, suara deru mesin perahu mulai terdengar β satu per satu, perlahan namun pasti, berlayar menuju laut yang masih gelap.
Bagi warga Kenjeran, laut bukan sekadar pemandangan. Ia adalah dapur, sawah, sekaligus masa depan keluarga. Namun belakangan ini, laut menyapa dengan cara yang berbeda.
“Dulu, dari sini β dari tempat kita berdiri ini β sudah dapat ikan.” Ujar Pak Salim, seorang nelayan yang sudah melaut sejak usia remaja. Matanya menatap ke arah cakrawala, seolah mencari jejak masa lalu.
“Sekarang? Harus jauh. Ke tengah. Ke perbatasan. Kalau angin tidak bersahabat, pulang tanpa hasil. Bensin naik, harga ikan ditekan… tapi kami tidak menyerah.”
π LAUT YANG BERUBAH
Banyak hal yang berubah di perairan Surabaya Timur dalam sepuluh tahun terakhir. Ikan-ikan yang dulu berkumpul di dekat pantai kini berpindah lebih jauh. Air yang dulu jernih keruh karena limbah sungai. Perahu-perahu besar kadang masuk ke wilayah yang seharusnya untuk nelayan kecil.
Pendapatan tak menentu. Kadang pulang membawa keranjang penuh, kadang hanya cukup untuk makan sehari. Namun mereka tetap melaut setiap pagi. Bukan karena tak punya pilihan lain β melainkan karena mereka mencintai laut, dan lautlah yang memberi mereka makan turun-temurun.
“Kami tidak mengajarkan anak-anak untuk takut pada ombak. Kami mengajarkan mereka menghormatinya.” Tutur Ibu Ratna, yang menunggu suaminya pulang di pinggir pantai sambil mengolah ikan hasil tangkapan kemarin.
πͺ TETAP BERTAHAN
Di tengah segala keterbatasan, semangat mereka tak pernah padam:
- πΉ Saling bantu sesama nelayan β jika satu perahu tak dapat hasil, yang lain berbagi
β - πΉ Mengajarkan anak-anak menghormati alam dan bekerja keras
β - πΉ Mengolah sisa tangkapan menjadi kerupuk, ikan asap, dan terasi agar tak ada yang terbuang
β - πΉ Tetap berharap β bahwa suatu hari, laut akan kembali menyapa seperti dulu
“Kami miskin harta, tapi tidak miskin semangat. Selama Tuhan masih memberi ombak, kami tetap melaut.” β ucap Pak Salim sambil menatap matahari yang mulai terbit.
π€ APA YANG KITA BISA LAKUKAN
Kisah mereka bukan sekadar cerita β ini adalah cerminan ketangguhan warga pesisir yang menyokong pasokan pangan kota Surabaya. Setiap ikan yang ada di meja makan kita, ada keringat, doa, dan perjuangan keluarga nelayan di dalamnya.
Berikut hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan bersama:
β
Beli langsung dari nelayan β hindari perantara, agar hasilnya sampai utuh ke tangan mereka
β
Hormati hasil laut β jangan buang makanan, hargai setiap ikan yang ada di piring
β
Jaga kebersihan pantai β sampah yang kita buang ke sungai, kembali ke laut tempat mereka mencari nafkah
β
Kenalkan anak-anak β ajak berkunjung ke Kenjeran, ceritakan bagaimana ikan didapat
β
Dukung produk olahan warga β kerupuk, abon, terasi buatan ibu-ibu pesisir membantu menyekolahkan anak-anak mereka
π‘ BAGI INSTANSI & PIHAK YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI
Khatulistiwa Indonesia sebagai media pemberitaan yang berdiri secara mandiri, membuka kesempatan bagi instansi, lembaga, perusahaan, maupun perorangan yang berkenan turut mendukung kelangsungan liputan serta pemberdayaan warga pesisir ini.
Dukungan yang disalurkan digunakan untuk:
- π€ Biaya perjalanan peliputan ke lokasi pesisir yang jauh
β - π· Peralatan dokumentasi agar cerita warga terekam layak
β - π» Pemeliharaan situs agar informasi dapat dibaca masyarakat luas
β - π Sebagian dialokasikan untuk kebutuhan mendesak warga yang diliput

Saluran Dukungan: π¦ BANK BRI β Kode Bank: 002
π No. Rekening: 097301035188531
π€ Atas Nama: JOSEPH RIZARD
π± QR Kode: .koffie.alvic05
π¬ Konfirmasi: +62 821-4067-6460
β οΈ Keterangan Penting:
– Dukungan ini bersifat sukarela dan tidak mengikat- Pemberian tidak mempengaruhi isi pemberitaan β liputan tetap independen, jujur, dan berimbang
– Nama instansi/pemberi dapat disebut sebagai “Mitra Pendukung” dengan izin tertulis
– Setiap penerimaan dicatat secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan
βοΈ PESAN PENUTUP “Mereka berangkat sebelum matahari terbit, pulang saat kota mulai ramai. Mereka tak meminta belas kasihan β hanya dihargai. Diingat. Diberi tempat yang layak di tengah pembangunan ini.”
β Khatulistiwa Indonesia
π’ Hubungi Kami: π§ Email: khatulistiwaindonesia.pt@gmail.comπ WhatsApp: +62 821-4067-6460π Situs: www.khatulistiwaindonesia.online
Bersama-sama, Kita Bangun yang Membangun.


Pingback: Dari Meja Palazzo ke Pesisir Kenjeran: Program Liputan Khusus Surabaya Timur Hadir β Mengangkat Kisah Nelayan, Produk UMKM, dan Semangat Anak Pesisir - Khatulistiwa INDONESIA